Hadits Larangan Menikah Saat Ihram
Hadits Larangan Menikah Saat Ihram

Hadits Larangan Menikah Saat Ihram

Diposting pada

Nasihatpernikahan.com – Apakah ada Hadits Larangan Menikah Saat Ihram? Namun sebenarnya apa yang dimaksud dengan nikahnya orang yang sedang berihram? Demikianlah pertanyaan-pertanyaan yang kerap datang.

Mungkin juga itu pertanyaan dari diri kita sendiri. Ihram ( إحرام) sendiri dijelaskan sebagai keadaan seseorang sudah memiliki niat untuk melakukan atau melaksanakan ibadah haji atau umroh.

Istilah ihram disebut juga dengan “muhrim” untuk tunggal dan “muhrimun” untuk istilah jamaknya. Nah memang ada beberapa larangan ketika diri kita tengah melakukan ibadah ihram.

Termasuk salah satu larangannya adalah menjalankan akad nikah, dan bahkan dilarang menjadi wali dalam pernikahan.

Seperti yang dijelaskan, seperti pendapat yang diikuti oleh mazhab Syafi’i, dalam kitab Fath al-Qorib:

(و) الثامن (عقد النكاح) فيحرم على المحرم أن يعقد النكاح لنفسه أو غيره، بوكالة أو ولاية

“Ke 8 (dari sepuluh perkara yang dilarang dilakukan ketika ihram) yaitu akad nikah. Akad nikah diharamkan bagi orang yang sedang ihram, bagi dirinya maupun bagi orang lain (menjadi wali”

Hadits Yang Menyatakan Larangan Menikah Saat Sedang Ihram

Hadits Larangan Menikah Saat Ihram
Hadits Larangan Menikah Saat Ihram

Terdapat pula beberapa hadist yang mengatakan tentang haramnya pernikahan saat ihram. Seperti yang dijelaskan dalam Hadits Muslim.

Hadits Muslim 2522:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ نُبَيْهِ بْنِ وَهْبٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ أَرَادَ أَنْ يُزَوِّجَ طَلْحَةَ بْنَ عُمَرَ بِنْتَ شَيْبَةَ بْنِ جُبَيْرٍ فَأَرْسَلَ إِلَى أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ يَحْضُرُ ذَلِكَ وَهُوَ أَمِيرُ الْحَجِّ فَقَالَ أَبَانُ سَمِعْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلَا يُنْكَحُ وَلَا يَخْطُبُ

 “Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] dia berkata; Saya membaca di hadapan [Malik] dari [Nafi’] dari [Nubaih bin Wahb] bahwa Umar bin Ubaidillah hendak menikahkan Thalhah bin Umar dengan putri Syaibah bin Jubair, lantas dia mengutus seseorang kepada Aban bin Utsman agar dia bisa hadir (dalam pernikahan), padahal dia sedang memimpin Haji, lantas [Aban] berkata; Saya pernah mendengar [Utsman bin Affan] berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang sedang berihram tidak diperbolehkan untuk menikahkan, dinikahkan dan meminang.” (Hadist Muslim No. 2522)

Hadits Muslim 2523:

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ نَافِعٍ حَدَّثَنِي نُبَيْهُ بْنُ وَهْبٍ قَالَ بَعَثَنِي عُمَرُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْمَرٍ وَكَانَ يَخْطُبُ بِنْتَ شَيْبَةَ بْنِ عُثْمَانَ عَلَى ابْنِهِ فَأَرْسَلَنِي إِلَى أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ وَهُوَ عَلَى الْمَوْسِمِ فَقَالَ أَلَا أُرَاهُ أَعْرَابِيًّا إِنَّ الْمُحْرِمَ لَا يَنْكِحُ وَلَا يُنْكَحُ أَخْبَرَنَا بِذَلِكَ عُثْمَانُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abi Bakar Al Muqaddami] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Ayyub] dari [Nafi’] telah menceritakan kepadaku [Nubaih bin Wahb] dia berkata; Umar bin Ubaidillah bin Ma’mar pernah mengutusku, saat itu dia sedang meminang putri Syaibah bin Utsman untuk anaknya, lantas dia mengirimku untuk menemui [Aban bin Utsman] yang sedang berihram pada musim itu, lalu dia berkata; Saya tidak menganggapnya seorang badui, sesungguhnya orang yang berihram dilarang untuk menikahkan dan dinikahkan. Telah mengabarkan kepada kami [Utsman] seperti itu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Hadist Muslim 2523).

Hadits Muslim 2524:

و حَدَّثَنِي أَبُو غَسَّانَ الْمِسْمَعِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى ح و حَدَّثَنِي أَبُو الْخَطَّابِ زِيَادُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَوَاءٍ قَالَا جَمِيعًا حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ مَطَرٍ وَيَعْلَى بْنِ حَكِيمٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ نُبَيْهِ بْنِ وَهْبٍ عَنْ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلَا يُنْكَحُ وَلَا يَخْطُبُ

“Dan telah menceritakan kepadaku [Abu Ghassan Al Misma’i] telah menceritakan kepada kami [Abdul A’la] Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepadaku [Abu Al Khaththab Ziyad bin Yahya] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Sawa’] dia berkata; Telah menceritakan kepada kami [Sa’id] dari [Mathar] dan [Ya’la bin Hakim] dari [Nafi’] dari [Nubaih bin Wahb] dari [Aban bin Utsman] dari [Utsman bin Affan] bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang berihram tidak diperbolehkan untuk menikah dan dinikahkan dan meminang.” (Hadist Muslim 2524)

Larangan Menikah Saat Ihram Menurut Jumhur Ulama

Ada pula dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jâmi’ Tirmidzi, bahwa Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan jumhur ulama berpendapat bahwa nikahnya orang yang berihram itu tidak sah.

Mereka yakin akan hal tersebut berdasarkan beberapa hadis dalam bab yang sama (bab kemakruhan nikah orang yang sedang ihram).

Sedangkan imam Abu Hanifah dan ahli fiqih Kufah berpendapat bahwa nikahnya orang yang sedang muhrim adalah pernikahan yang sah.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa nikahnya orang yang sedang berihram menurut jumhur ulama tidak sah, sedangkan Imam Abu Hanifah dan ulama Kufah yang berpendapat sah.

Namun, dalam kitab Jami’ Tirmidzi terdapat hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah menikah ketika sedang ihram.

عَنِ ابْنِ عَبَّاس أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَ مَيْمُوْنَةَ وَهُوَ مُحْرِمٌ

“Dari Ibnu Abas RA bahwasannya Nabi SAW menikah dengan Maimunah sedangkan beliau sedang ihram” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadis lain yang juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, menyebutkan hadis yang bertentangan dengan hadis di atas.

عن أبي رافع قال: تزوج رسول الله ميمونة وهو حلال

Dari Abu Râfi’, ia berkata: “Nabi menikah dengan Maimunah ketika beliau tidak sedang berihram”

Kedua hadis di atas seolah-olah kontradiktif, pada hadis yang pertama disebutkan bahwa Maimunah RA menikah dengan Rasul SAW saat ihram, sedangkan yang kedua menyebutkan sebaliknya, tidak dalam keadaan ihram.

Lantas bagaimana penjelasan ulama tentang hadis pertama?

Didapatkan dari kitab Tuhfatu al-Ahwadzi, ulama menjelaskan empat cara menyelesaikan pertentangan dalam hal ini.

Pertama, Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sedang tidak berihram sebagaimana yang diriwayatkan oleh kebanyakan sahabat.

Al-Qodhi berkata: “Tidak ada yang meriwayatkan hadis “Nabi menikah dalam keadaan ihram” kecuali Ibnu ‘Abbas saja.

Sedangkan Maimunah, Abu Rafi’ dan selainnya meriwayatkan bahwa Nabi menikah saat tidak ihram, selain itu faktor dari kekuatan hafalan pun sangat berpengaruh, mereka lebih kuat hafalannya dari Ibnu ‘Abbas.

Kedua, hadis oleh Ibnu ‘Abbas ditakwil, kata محرم dalam hadis tersebut terdapat makna bahwa Nabi sedang berada di tanah haram, dan bukannya sedang melakukan ihram.

Ketiga, terdapat kontradiksi antara perkataan dan perbuatan. Sebagaimana pada kaidah yang ada, apabila terjadi kontradiksi antara perkataan dan perbuatan di dalam hadis, maka yang harus diutamakan adalah perkataannya.

Perkataan yang dimaksud di sini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Maimunah sendiri, orang yang melakukan pernikahan ini.

عن ميونة أن رسول الله صلّى الله عليه وسلم تزوجها وهو حلال

Dari Maimunah RA bahwasannya Rasulullah Saw menikahinya ketika beliau tidak sedang berihram (HR. Tirmidzi)

Keempat, permasalahan tadi adalah bagian dari kekhususan (khususiyyah) Nabi Muhammad Saw. Dan pada pendapat yang ke-empat ini terdapat dua bagian.

Pertama, pendapat yang berkata bahwa pernikahan itu bagian dari kekhususan Nabi SAW dan ini adalah yang paling kuat, sedangkan pendapat sebaliknya atau pendapat kedua adalah pendapat yang lemah.

Wallahu a’lam

Baca Juga: Nikah Siri Dalam Islam, Ini Hukum & Penjelasannya

Itulah beberapa hal penjelasan tentang hadits larangan menikah saat ihram. Semoga informasi ini bermanfaat. Silakan dicari kajian lain yang lebih menguatkan apa yang anda baca saat ini.

Sekian yang bisa disampaikan, terimakasih. Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *