Hukum Menikah Saat Hamil
Ilustrasi Hukum Menikah Saat Hamil

Hukum Menikah Saat Hamil, Ini Penjelasannya

Diposting pada

Nasihatpernikahan.com  – Apa Hukum Menikah saat Hamil? Inilah problematika saat ini kebanyakan pernikahan berlangsung, hamil duluan baru menikah, lalu bagaimana hukumnya?

Namun kita harus melihat dari sudut pandang dan kejadian yang mana. Karena menikah saat hamil ini ada banyak penyebab yang melatarbelakanginya.

Banyak berbagai faktor dan masalah yang menjadi sebab ia menikah saat hamil. Misalnya ada seorang wanita yang hamil yang kemudian diceraikan oleh suaminya.

Dia menikah lagi dengan orang lain, namun dalam kondisi mengandung. Namun ada juga seorang wanita yang hamil karena zina.

Alhasil, ia terpaksa menikah saat hamil 3 bulan, atau menikah saat hamil 7 bulan, hal ini dilakukan demi menutupi aib keluarga. Jika demikian bagaimana hukum pernikahannya?

Inilah beberapa hal yang harus dipahami dari apa dasar penyebab ia menikah saat hamil. Berikut beberapa penjelasannya:

Hukum Menikah saat Hamil Karena Cerai

Hukum Menikah Saat Hamil
Ilustrasi Hukum Menikah Saat Hamil

Pertama kita akan memahami tentang apa hukum menikah saat hamil karena cerai. Dalam hal ini penjelasannya adalah hukum menikah saat hamil karena kondisi wanita yang diceraikan mantan suaminya dalam keadaan hamil.

Berdasarkan uraian yang dipaparkan Ustadz Ammi Nur Baits, seorang wanita yang diceraikan mantan suaminya dalam keadaan hamil haruslah menunggu ia melahirkan dan selesai masa iddahnya, baru ia dapat menikah kembali.

Dimana masa iddah wanita hamil adalah ketika ia melahirkan. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam Al Quran, “Para wanita hamil, masa iddahnya sampai mereka melahirkan,” (QS. At-Thalaq : 4).

Sehingga dapat kita pahami bahwa wanita yang menikah saat hamil adalah terlarang, dan status pernikahannya batal atau tidak sah.

Penjelasan ini lebih diperkuat dengan firman Allah dalam Al Qur’an, yang artinya:

“Dan janganlah kamu berazam (bertekad) untuk melakukan akad nikah, sampai masa iddah telah habis.” (QS. Al Baqarah : 235)

Nah dalam penjelasan ini artinya, pernikahan yang dilakukan saat hamil, meski dalam kondisi cerai dari suami sebelumnya dianggap tak sah pernikahannya. Jadi jika ingin menikahi harus menunggu masa iddah selesai.

Lalu bagaimana dengan pernikahan karena hamil hasil zina?

Hukum Menikah saat Hamil Karena Zina

Tak sedikit kasus di jaman sekarang ini, dimana wanita yang belum menikah sudah terlanjur hamil duluan karena perbuatan zina yang ia perbuat.

Lalu, orangtua memaksa untuk menikahi anaknya untuk menutupi aib keluarga mereka. Pernikahannya ini ada yang dilakukan dengan laki laki yang menghamilinya, atau juga dengan laki laki lain yang bukan merupakan pelakunya.

Mengenai hukum ini, mayoritas ulama membolehkan pernikahan wanita yang sedang hamil akibat perzinaan dengan laki laki yang menghamilinya.

Tetapi, ulama yang kuat disyaratkan untuk calon pengantin agar bertobat terlebih dahulu dari dosa besar yang telah diperbuatnya tersebut.

Pendapat ini atas dasar hukum yang tertuang dalam Al Quran, yakni:

“Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik.

Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mukminin.” (QS an-Nur : 3)

Lalu, bagaimana hukumnya wanita menikah saat hamil dengan laki laki yang tidak menghamilinya? atau menikah dengan orang lain.

Mayoritas ulama salaf dan khalaf memperbolehkan hal ini.

Adapun madzhab Abu Hanifah mengatakan bahwa hukumnya boleh menikahi wanita yang hamil di luar nikah meskipun ia bukan pelaku dari perzinahan tersebut, tetapi dengan syarat, tidak boleh berjima’ dengannya selama masa hamil.

Laki laki tesebut, barulah boleh berjima’ dengan wanita tersebut, jika rahim telah kosong dari janin, dan telah haid minimal satu kali.

Sungguh kita mengetahui mudharat yang didapat dari perbuatan zina ini. Terlebih lagi dampaknya akan dirasakan oleh anaknya kelak.

Dimana sang anak hasil dari perbuatan zina ini tidak boleh di-bin-kan dengan bapaknya. Tetapi harus di-bin-kan kepada ibunya.

Sehingga kita sebagai umat muslim yang mengerti akan ilmu agama sudah menjadi kewajiban untuk menghindari perbuatan yang dibenci Allah SWT.

Solusi Hamil di Luar Nikah Menurut Islam

Adapun upaya sebagai solusi hamil di luar nikah menurut Islam adalah dengan menjauhi perbuatan zina.

Sebagaimana tertulis dalam Al Qur’an surah Al Isra ayat 32 yang artinya:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”.

Untuk itu sebaiknya kita menghindari yang namanya zina. Zina adalah salah satu perbuatan dosa besar. Bahkan jangan sampai karena kebiasaan suka akan zina, menjadikan ia sebagai wanita yang haram dinikahi.

Maka dari itu sebagai seorang laki-laki juga harus memahami, demikian juga untuk seorang wanita, apa saja yang menjadi kriteria wanita yang pantas dinikahi. Terutama adalah tentang wanita yang pantas dinikahi menurut Islam.

Dalam hal ini terlepas dari hukum menikah saat hamil, alangkah baiknya kita menikah dalam keadaan yang baik dan tidak menyalah artikan aturan agama, meski pernikahannya diperbolehkan.

Artiannya, kita untuk sebisa mungkin menghindari perceraian. dan menghindari segala bentuk perbuatan zina.

Semoga ulasan di atas menambah wawasan kita mengenai apa hukum menikah saat hamil, baik karena diceraikan suami, atau karena perbuatan zina.

Semoga pula kita bisa terhindar dari perbuatan zina yang sungguh hina dan dibenci oleh Allah SWT itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *